Menghilangkan Kesan Eksklusif


“ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” ( Al Anfaal Ayat 12)

Eksklusif berarti terbatas bagi sebagian orang saja. Coba kamu pikir terlebih dulu, mengapa hal ini bisa sampai terjadi di lembagamu. Mengapa eksklusivitas sering menjadi trademark bagi aktivis dakwah. Berbagai julukan mengenai aktivis dakwah ini sering kali terdengar. Sebutlah kuper, tidak gaul, sok suci, kaku, tidak bisa menerima perbedaan, tidak mau bergabung dengan kita-kita, dan sebagainya. Pertama kali tiba di kampus, saya sangat merasakan kekentalan ini. Saya jadi bertanya-tanya, apakah memang kader dakwah harus menjadi terasing terlebih dulu demi memperoleh kemenangan Allah?

Apakah sebetulnya kader dakwahlah yang menjauhi massa, ataukah massa yang menolak kader dakwah? Saya mengamati hal ini sampai beberapa pekan, hingga saya mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa ternyata memang kader dakwahlah yang menjauhi massa. Entah bagaimana sebabnya, kader lebih senang menyendiri dengan Qur‘an ketimbang diskusi perkuliahan dengan teman-teman satu lab. Kader lebih senang ―kabur‖ dengan cepat setelah kuliah selesai untuk pergi ke masjid ketimbang menyapa dan berbasa-basi ria dengan teman-teman satu kelas. Kader lebih senang makan sendirian atau makan dengan sesama kader ketimbang makan bersama teman-teman satu himpunan program studi. Kenyataan pahit ini harus kita terima dengan sebuah pernyataan bahwa kader belum siap berbaur dengan massa. Kemampuan adaptasi yang lemah ini justru membuat kader semakin tampak ―aneh di mata massa sehingga mereka menjadi tidak diterima oleh lingkungannya. Akibatnya, tidak ada kepercayaan massa terhadap kader sehingga agenda dakwah apa pun yang diadakan oleh lembaga dakwah tidak direspon positif oleh massa.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Memang dalam materi mentoring tidak ada materi khusus terkait bagaimana menjadi kader yang inklusif. Untuk menjadi kader yang inklusif kita perlu mengenal dunia dengan utuh, jangan terjebak pada perspektif tertentu saja. Kemampuan adaptasi diri seseorang menentukan kemampuannya berkembang di masa yang akan datang. Bahkan saat ini, kemampuan adaptasi dan kemampuan memimpin telah menjadi sebuah keuntungan yang memberi nilai plus bagi diri kita oleh pihak personalia dalam proses penerimaan pegawai.

Kita tidak akan berbicara tentang pekerjaan, kita akan sedikit berdiskusi tentang sejauh mana kita mengenal massa kita. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan yang bisa kamu jawab sendiri dan silahkan introspeksi setiap poin pertanyaan ini untuk mengetahui keberterimaan dakwah di kampusmu.

1. Apakah kamu mengetahui tempat makan siang teman-teman satu kelas?
2. Apakah kamu mengetahui gosip atau isu yang beredar diantara teman satu program studi?
3. Apakah kamu mengetahui siapa saja teman satu lab-mu yang akan menjadi dosen, pengusaha, politikus, atau pegawai setelah lulus?
4. Apakah kamu pernah mengikuti kebiasaan teman satu kelas dalam menghabiskan akhir pekan?
5. Apakah kamu pernah belajar kelompok atau mengerjakan tugas bersama lalu kamu dimintai oleh mereka menjadi pemimpin kelompok dengan pertimbangan kompetensi dan kepercayaan, bukan sebagai ―tumbal‖ belaka?
6. Pernahkan kamu memenangi poling sebagai ―terbaik‖, ―suami idaman‖, ―terpercaya‖, ―terasyik‖, atau ―terfavorit‖ dalam poling sederhana di kelas?
7. Apakah kamu pernah diminta memimpin do‘a atau menjadi imam sholat saat sedang berada pada acara syukuran?
8. Seberapa sering temanmu yang paling tidak dekat denganmu bercerita dan berkonsultasi masalah pribadinya kepadamu?
9. Seberapa banyak teman kamu yang bertanya masalah agama ke kamu?
10. Sejauh mana kamu dibutuhkan di kelas? Ketika kamu sakit berapa banyak teman sekelasmu yang meng-sms, menelepon atau menjengukmu?
11. Seberapa banyak teman satu program studimu yang mengetahui tempat kosmu?
12. Apakah ketika ada acara ulang tahun atau jalan-jalan bareng satu kelas kamu diajak secara khusus oleh temanmu?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah untuk menjustifikasi dirimu, melainkan dengan dua belas pertanyaan sederhana ini kamu bisa mendapat gambaran sejauh mana dirimu diterima oleh teman-teman satu kelas atau satu program studi yang notabene adalah objek dakwahmu yang terdekat. Kesan eksklusif seorang kader akan berdampak pada kesan eksklusif sebuah lembaga dakwah juga.

Inspiratia Flava hal 27-29, Ridwansyah Yusuf Ahmad

______________________________________________________________________________

Dari 12 pertanyaan diatas, rasanya saya masih terkesan “ekslusif”. Wallahu a’lam tapi, iya apa nggak, semoga aja nggak 😀

Bismillah, harus berubah!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s